RAJAWALI POS

BERITA WATAMPONE DAN SEKITARNYA

Rajawalipos.com -
Bone,

Kenapa Pembunuh Massal Kebanyakan Pria?

Published on: Minggu, 30 Desember 2012 //

darah,tangan,kejahatan,bunuhIlustrasi pembunuhan . (Thinkstockphoto)

Hal ini kemungkinan besar dipicu karena adanya ancaman pada status sang pelaku yang mayoritas pria.

Sepekan ini media massa dunia terhenyak dengan berita penembakan di Sandy Hook Elementary School, Newtown, Connecticut, Amerika Serikat. Bukan hanya jumlah korbannya yang mencengangkan, tapi anak-anak yang tewas di dalamnya.
Adam Lanza sebagai pelaku, menembak mati 20 anak dan enam orang dewasa pada Jumat (14/12) lalu. Lanza sebelumnya menembak ibu kandungnya dan berakhir dengan bunuh diri.
Kondisi ini mendatangkan pertanyaan, kenapa pembunuh massal kebanyakan kaum pria? Menurut Marissa Harrison, asisten profesor psikologi di Penn State Harrisburg, AS, hal ini kemungkinan besar dipicu karena adanya ancaman pada status sang pelaku.
"Apapun yang mengancam status seorang pria, maka itu menjadi ancaman reproduktif," ujar Harrison yang juga menyatakan 98 persen pembunuh massal adalah laki-laki.
Kesimpulan ini didapatnya setelah memeriksa 90 pria pembunuh massal dari tahun 1996 hingga 2008. Menurut Harrison dan koleganya, ancaman itu berupa di-bully atau kehilangan pekerjaan. Ancaman ini memicu kejadian pembunuhan pada 88 persen kasus yang ada.
"Kebanyakan dari mereka punya ikatan dengan korban, atau si korban mewakili simbol tertentu pada si pembunuh," tambah Harrison.
Namun, bukan artinya perempuan tidak memiliki rasa kejam atau mendendam. Hanya sifatnya saja yang berbeda. Sebagai contoh, pria lebih suka menggunakan senjata api, sedangkan perempuan lebih memilih menenggelamkan atau mencekik korbannnya.
Mary Muscari, pendamping profesor di Decker School of Nursing di Binghamton University, menyebutkan, perempuan juga punya sifat mendendam. Terutama mereka yang sudah dilecehkan secara seksual. Perbedaan utamanya," Perempuan menyesali fantasi balas dendamnya," kata Muscari.

Waspada Makanan di Hari Libur

Published on: //

darah,diabetesTes darah, salah satu solusi medis untuk mencegah penyakit diabetes. (Thinkstockphoto).

Bukan artinya Anda tidak boleh memakan apapun saat liburan. Hanya saja, batasi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi.

nasi kari,makanan,ayamNasi kari. (Thinkstockphoto)
Masuk pekan libur Natal dan akhir tahun, makanan jadi godaan yang sulit diabaikan. Beragam masakan dan kudapan kegemaran sudah terpampang di meja makan, kulkas, bahkan di dekat televisi.
Tapi waspadalah! Karena menurut Dale Hamilton, spesialis diabetes dari Methodist Hospital di Houston, AS, makanan berlemak tinggi dengan kalori, garam, dan karbohidrat berlebih, berisiko tinggi bagi mereka yang tidak tahu memiliki penyakit diabetes tipe 2.
"Kematian paling umum dari diabetes tipe 2 adalah penyakit jantung dan stroke," papar Hamilton.
Tipe 2 adalah diabetes yang paling umum ditemui. Di mana penderitanya kesulitan menghasilkan insulin --hormon yang dibutuhkan tubuh untuk mengubah makanan jadi energi.
Gejalanya berupa rasa haus, frekuensi buang air kecil yang terlalu banyak, mati rasa, pandangan kabur, dan kadar gula darah tinggi. Kegemukan dan sejarah diabetes dalam keluarga, bisa meningkatkan risikonya.
"Gula darah tinggi memperlemah sistem kekebalan. Jadi, seseorang bisa terjangkit flu dan sulit pulih, atau infeksi yang tidak kunjung sembuh," kata Hamilton.
Tapi bukan artinya Anda tidak boleh memakan apapun saat liburan. Hanya saja, batasi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Seperti nasi, kentang, dan pasta. Begitu juga dengan daging ham ataupun kalkun yang mengandung garam tinggi.
Ketika dikonsumsi dengan makanan lain, bahan-bahan ini bisa meningkatkan tekanan darah. Hingga berujung pada sakit di bagian dada, susah bernapas, dan gagal jantung.
Disarankan bagi para penderita atau mereka yang berisiko diabetes, untuk rajin memeriksakan diri ke dokter. Bisa juga membeli alat pendeteksi gula darah di apotek terdekat.

Feed!

Technology

Budaya

RSS Feed!
RSS Feed!
RSS Feed!
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!
Feed!

INFORMASI TERBARU


Tabulasi

Main Menu

Artikel (2) Berita (10) Budaya (4) Kesehatan (2) Kuliner (2) Politik (4) Redaksi (2) Sulsel (5) Teknologi (5)

Top News

Tanggapan __ Pembaca